Rabu, 06 November 2013

Tipe Permasalahan dan Keputusan

           Permasalahan dan keputusan adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan, dimana tipe permasalahan akan berhubungan dengan tipe keputusan yang diambil. Sebagai contoh, keputusan pemesanan kembali persediaan (raw materials) adalah tipe salah satu permasalahan yang sangat rutin, sebab sudah di definisikan dengan jelas alternatifnya, dan dengan mudah dapat dikalkulasi serta secara keseluruhan dapat ditangani melalui prosedur yang baku. Sebaliknya, keputusan yang menyangkut produk baru (new product) atau pemanfaatan peralatan baru merupakan permasalahan yang tidak rutin. Secara umum difahami bahwa keputusan yang tidak rutin biasanya ditangani pimpinan puncak (top management), dan keputusan rutin ditangani lebih banyak menejer tingkat menengah dan bawah.
             Dengan meminjam istilah komputer, tipe-tipe keputusan dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar (Simon, 1976).
 Pertama :
1.     Tipe Keputusan yang Terprogram (Programmed Decision), dan
2.     Tipe Keputusan yang Tidak Terprogram (Unprogrammed Decision).
 Kedua :
1.     Tipe Keputusan dengan Kondisi Pasti (Certainty Decision), dan
2.     Tipe Keputusan Berisiko dan Tidak Pasti (Under Risk and Uncertainty)

 Tipe Keputusan yang Terprogram (Programmed Decision)
            Keputusan yang terprogram adalah keputusan yang terstruktur dengan baik dan sifatnya berulang-ulang berdasarkan kebiasaan, aturan main atau prosedur baku. Karena permasalahan seperti ini sering muncul dalam organisasi maka prosedur baku sangat diperlukan. Sekarang ini terjadi perkembangan pesat dalam keputusan yang terprogram sebagai akibat penggunaan computer yang mendasari system informasi dan teknik matematika yang disebut penelitian operasional (operation research).
            Model matematis yang ditopang program komputer dapat digunakan untuk mendeskripsi dunia nyata atau masalah yang dihadapi dan dapat ditelusuri pengambilan keputusannya.
            Analisa hirarkhi proses (AHP) salah satu contoh model keputusan yang terprogram yang mendapat banyak perhatian, untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan penentuan prioritas dan alokasi sumber daya atau pemilihan alternative proyek-proyek lainnya.

 Tipe Keputusan Tidak Terprogram (Unprogrammed Decision)
            Tipe keputusan tidak terprogram adalah keputusan yang berhubungan dengan masalah-masalah yang unik atau di luar kebiasaan. Jika muncul masalah yang tidak mampu diliput oleh kebijakan-kebijakan atau mungkin sangat memerlukan perlakuan khusus, maka permasalahan tersebut harus ditangani atau diselesaikan dengan tipe keputusan yang tidak terprogram. Misalnya masalah perluasan usaha perusahaan dan pelemparan produk baru ke pasaran (new product), peraturan atau kebijakan baru dari pemerintah (regulasi dan deregulasi), biasanya sangat sulit dideteksi atau deprogram, sebab terlalu banyak factor yang terlibat dan mempengaruhi perilaku factor tersebut.
Keadaan seperti ini, seorang pengambil keputusan harus mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan (judgement), intuiasi (intuition), dan kreativitas (Creativity) di dalam pendekatan heuristics (Tannembaum, 1968).
            Pertimbangan dan intuisi umumnya muncul dari sejumlah pengalaman seseorang. Keduanya merupakan pengetahuan manajerial dan bakat yang disebut sebagai “kearifan yang tersaring” (disilled wisdom).
            Pengambilan keputusan kreatif terjadi bila lingkungan yang dinamis banyak mendatangkan masalah-masalah yang tidak terstruktur bagi organisasi, sehingga kreativitas sangat bernilai di dalam keputusan yang tidak terprogram. Konsep ini yang mendasari kemunculan ide-ide yang asli dan murni, karena konsep ini melibatkan cara yang unik dalam memandang sebuah permasalahan atau alternatif pemecahan.
Kreativitas dilihat dari segi perseorangan, atau individu dan organisasi.
      Kreativitas Perorangan; pertanyaan selalu muncul yaitu apa yang membuat seseorang kreatif?. Jawaban pertanyaan ini sebagian besar diarahkan kepada sejumlah karakteristik umum yang biasanya dimiliki oleh seseorang (Kelly, 1965). Karakteristik seseorang yaitu ketidaktergantungan kepada orang lain adalah orang-orang cerdas; memiliki keinginan yang tinggi, wawasannya terbuka dan objektif, memiliki aspirasi yang tinggi, serta secara relatif memiliki pengendalian diri.
      Kreativitas Organisasi; dimana iklim dan struktur organisasi mempengaruhi perkembangan seseorang melihat kreasi. Faktor pengawasan atau supervise mempengaruhi peningkatan kreativitas, bila supervise memiliki kepekaan terhadap perbedaan-perbedaan di antara bawahan (Gordon dan Morse, 1968). Oleh karena itu, salah satu tugas seorang pengawas adalah menciptakan iklim organisasi yang dapat membangkitkan ide-ide baru. Simon membedakan tipe keputusan dan teknik pengambilan keputusan, yaitu tradisional dan modern (Stoner, 1992).


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar